Maafkan Diri Sendiri Lebih Sulit Daripada Memaafkan Orang Lain
Saat itu usiaku 27 tahun. Ketika aku pertama kali memberanikan diri ke dokter diri. Gigi adalah bagian dari diriku yang membuatku sangat insecure. Gigiku cukup rusak keadaannya saat itu. Karies di mana-mana, belum pernah scalling, dan ada beberapa gigi yang sudah tanggal. Bahkan salah satu gigi seriku juga sudah rusak. Aku datang ke dokter gigi dengan perasaan malu. Sebelumnya aku berpikir, “Dokter giginya bakal jijik nggak ya? Ngejudge nggak ya?” Tapi aku sudah searching, katanya itu emang udah jadi bagian dari pekerjaan dokter gigi, kenapa harus malu? Setelah ke dokter gigi dan perawatan gigi sampai akhirnya operasi gigi bungsu, aku menemukan kasus langka pada rongka mulutku, yakni aku punya gigi tambahan banyak. Kalau ditotal ada 7 dengan 1 impaksi taring dan 1 impaksi gigi bungsu. Dokter gigi spesialis bedah mulut bahkan bilang aku spesial karena nggak banyak yang punya kasus sepertiku. Aku konsultasi dengan dokter gigiku dan beliau mengatakan kalau penyebab keadaan gigiku ini karena keturunan. Termasuk kenapa gigiku cepat karier, karena pengaruh ph ludah. Di titik itu aku sadar ini semua bukan salahku. Aku yang selama bertahun-tahun memendam insecurity karena keadaan ini, aku jadi sadar ternyata ini semua bukan salahku. Siapa sih yang mau lahir dengan keadaan seperti ini? Kalau bisa memilih aku pasti akan memilih memiliki keadaan gigi yang normal-normal aja. Saat itu aku merasa telah melukai diriku di masa lalu. Aku membiarkan diriku merasa rendah dan tidak layak, padahal semua itu bukan salahku dan di luar kuasaku. Lalu, kenanganku kembali ke tahun-tahun yang sudah berlalu. Melihat diriku yang ditertawakan, melihat diriku yang diabaikan, melihat diriku yang dicemooh. Aku ingat banget saat kelas 10, ada seorang guru yang bilang gini di depan kelas, “Orang yang dilihat pertama kali saat bertemu pasti giginya.” Aku yang saat itu insecure sama gigi, langsung merasa ciut. Aku berpikir pasti orang-orang nggak akan mau berteman denganku karena keadaan gigiku. Kalau diingat semuanya, ada banyak cerita di masa lalu yang diam-diam menyakitiku tapi banyak di antaranya sudah aku maafkan. Aku memahami mereka yang dulu menyakitiku belum dewasa. Mereka tidak tahu kalau hal-hal yang mereka lakukan itu bisa menyakiti orang lain. Atau sebenarnya mereka tahu, tapi itu terjadi karena mereka belum mengerti banyak hal. Aku juga bertemu dengan teman-temanku yang dulu tampak menyepelekanku dan mereka baik padaku. Kurasa itu cukup untuk menganggap apa yang terjadi di masa lalu sebagai cerita semata. Aku pun juga saat itu masih labil, lemah, dan belum dewasa. Sama seperti mereka, aku juga punya kesalahan dan tindakan yang kurang pantas. Jadi, selain aku memaafkan mereka, aku juga berusaha memaafkan diri sendiri. Namun ada satu orang yang membuatku sulit memaafkan diri sendiri. Sejak tahun 2021 (bahkan sebelum-sebelum itu), aku mencoba lebih jujur mengenai perasaanku dan mencari cara memaafkan diriku, sampai sekarang aku masih kesulitan. Kenapa aku sulit memaafkan diri sendiri, bukan sulit memaafkan orang itu? Karena dibandingkan bertanya ‘kenapa aku diperlakukan seperti itu’ aku justru lebih banyak bertanya ‘kenapa aku membiarkan diriku diperlakukan seperti itu’. Bertahun-tahun aku menguatkan diriku kalau aku nggak selemah itu, aku emang sengaja diam karena kasihan sama dia. Tapi makin lama justru penguatan seperti ini yang semakin membuatku sadar kalau aku sudah menyakiti diriku sendiri. Aku mulai mengurai benang kusut yang terjadi di masa lalu. Lalu, aku semakin menyadari, pantas saja aku sampai merasa seperti ini. Ternyata ada banyak bagian yang aku abaikan dan aku sengaja menahan diriku. Bahkan dulu aku enggan melabeli diriku sebagai korban bully karena aku nggak selemah itu. Tapi sekarang aku mau lebih jujur bahwa aku memang korban bullying. Aku menulis ini bukan karena aku ingin ‘menguliti’ dia tapi aku mau lebih jujur ke diri sendiri. Aku mau menjadikan menulis sebagai salah satu upayaku untuk memaafkan diriku sendiri. Persetan dengan manusia itu! Aku yakin dia juga nggak merasa bersalah dan nggak akan pernah minta maaf padaku. Dengan menuliskan ini aku harap orang-orang di luar sana menjadi lebih aware dengan perundungan/bully karena efeknya tidak hanya saat itu atau beberapa tahun. Selama belasan tahun, ada banyak keputusan dan tindakanku yang ternyata pengaruh dari bullying itu. Dulu aku tidak menyadari hal itu dan tidak mau jujur. Tapi di sini aku akan lebih jujur tentang luka-lukaku agar aku bisa mengeluarkanku dari sana dan menjadi diriku yang baru. Yang lebih bijaksana. Yang lebih sayang sama diri sendiri.
Sumber gambar: https://greatmind.id/article/memaafkan-diri-sendiri
Get notifications from this blog
