√ Story of Kale: Jomblo Adalah Pilihan Tepat - It's Me Desi Murniati
Copyright © oleh Desi Murniati - All Rights Reserved. Powered by Blogger.

Tuesday, October 27, 2020

Story of Kale: Jomblo Adalah Pilihan Tepat

 story of kale

Film Story of Kale: When Someone’s Fall in Love menjadi film yang wajib ditonton oleh penonton NKCTHI. Sebenarnya nggak nonton juga nggak apa-apa sih, cuma kamu nggak akan menemukan jawaban kenapa Kale jadi fuckboy di film NKCTHI. 

Apalagi ditambah beberapa hari yang lalu Kale dan Dinda jadi trending topic di Twitter. Temenku aja yang bukan penonton NKCTHI penasaran siapa Kale dan Dinda.

Sebelumnya aku udah nulis tentang review film Story of Kale: Alasan Kale jadi Fuckboy. Nah, sekarang aku mau kembali mereview film Story of Kale dengan cara yang berbeda. Lebih tepatnya apa sih yang aku dapatkan setelah nonton Story of Kale. 

Karena menurutku film ini memberikan banyak pemikiran-pemikiran tentang sebuah hubungan dan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul menjelang quarter life crisis. 

Terlebih buat kamu yang pernah menjalin hubungan dengan seseorang dan ketika kamu patah hati, kamu menyeret orang lain untuk menyembuhkan patah hatimu itu.

Dalam film NKCTHI Kale bilang ke Awan, “Bahagia itu tanggung jawab masing-masing.” Saat Awan berharap mereka bisa saling membahagiakan. 

Ternyata kata-kata itu bersumber dari Dinda, mantannya Kale yang ada di balik fuckboy-nya si Kale ini. Tapi bener nggak sih kalau bahagia itu tanggung jawab masing-masing?


Bahagia Kuncinya Ada pada Diri Sendiri


kale dinda


Beberapa hari yang lalu aku berpikir, “Benarkah kita bisa bahagia banget karena seseorang?” Pertanyaan itu muncul begitu saja setelah aku nonton Story of Kale. Buat aku yang nggak pernah pacaran, nggak tahu apa itu dibahagiakan oleh seseorang. 

Palingan mentok dibahagiakan oleh seseorang versi aku adalah ketika berkumpul bersama keluarga atau ketika mendapatkan traktiran teman. Tapi buat kalian yang pernah pacaran atau menjalin hubungan saling cinta pasti tahu apa itu dibahagiakan dan saling membahagiakan. 

Tapi tahu nggak sih sebenarnya rasa bahagia itu muncul bukan karena sumbangsih orang lain? Rasa bahagia itu muncul karena kamu menspesialkan dia dan ada banyak harapanmu padanya, sehingga ketika itu terjadi kamu pasti bahagia banget.


Seberapa bahagia kamu akan menentukan seberapa kamu akan kecewa.

Kamu pasti pernah mendengar quotes: jangan terlalu menggantungkan harapan pada orang lain karena jika itu tidak sesuai harapanmu, maka kamu akan kecewa berat. 

Itu juga yang terjadi ketika kamu merasa sangat bahagia karena seseorang, ketika tiba masanya kecewa kamu akan lebih kecewa dibandingkan orang yang bahagianya biasa saja. 

Makanya, banyak yang bilang cintailah sewajarnya, bencilah sewajarnya, bahagia dan bersedihlah sewajarnya, karena hidup kadang membuat kita merasakan sebaliknya.

Bahagia itu kuncinya ada pada diri sendiri. Percayalah kamu yang selalu merasa dibahagiakan orang lain itu hanya kebahagiaan semu. Perasaan kayak gitu hanya akan menyebabkan saling ketergantungan. 

Ya, nggak apa-apa, cuma mau sampai kapan kita akan menggantungkan diri ke orang lain? Sedangkan orang lain bisa meninggalkan kita kapan saja, entah itu karena keadaan atau karena dia meninggal dunia. 

Ibaratkan saja tombol bahagia itu ada pada diri sendiri, kamu boleh merasa bahagia atas seseorang tapi pengaturan bahagia itu ada pada diri sendiri. Kamu juga harus ketahui, rasa-rasa dalam hidup itu nggak selalu bahagia. 

Bahkan ada lho orang yang selalu merasa bahagia akhirnya sangat menderita karena perasaan bahagia itu. Hidup yang baik adalah hidup yang memiliki semua perasaan dengan sewajarnya dan penuh keseimbangan. Kalau kamu lupa coba aja dengerin lagu Secukupnya dari Hindia.


Berharap Orang Lain Menyembuhkanmu, Kamu Yakin?


story of kale


Ada yang bilang rasa sakit yang kamu rasakan saat patah hati nanti akan sembuh dengan sendirinya ketika kamu menemukan orang yang tepat. Ya, ungkapan itu nggak salah. 

Namun jauh sebelum ada yang menyembuhkan rasa patah hatimu, kamu harus menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu. Dalam Film Story of Kale ini, baik Dinda maupun Kale sama-sama memiliki trauma dengan keluarga mereka. 

Kale ini berharap Dinda bisa menyembuhkan traumanya, tapi bukannya menyembuhkan trauma si Kale ini, Dindi justru akhirnya meninggalkan Kale persis seperti yang Kale takutkan.

Ini juga berlaku buat kamu yang menyeret orang lain agar bisa menyembuhkan patah hati. Pura-pura telah menyukai orang lain setelah putus dengan pacar sebelumnya, padahal perasaan sama mantan itu belum selesai. 

Selesaikan saja dulu perasaanmu dan terimalah diri sendiri yang telah gagal, sembuhkan diri sendiri yang gagal tersebut, lalu terimalah orang lain dengan hati yang baru. Kenapa begitu? 

Karena ketika kamu memaksakan menerima seseorang padahal kamu belum selesai sama perasaan sebelumnya, kamu hanya menjadikan orang tersebut pelarian dan pelampiasan. Ya, siapa sih yang rela jadi pelarian dan pelampiasan? 

Kalau kamu melakukan itu juga bukannya bahagia tapi perasaan sakit hati dan rasa bersalah akan menumpuk. Belum lagi ketika patah hati dengan orang yang baru itu, kamu pasti akan merasakan patah hati secara double

Ya, siapa sih yang bisa menjamin orang yang kamu jadikan pelarian nggak akan membuatmu patah hati? Omongan orang lho bisa berubah kapan aja, termasuk sikapnya.


Lebih Baik Jomblo
 
jomblo

Setelah nonton film Story of Kale, aku mikir, “Kok orang mau sih bertahan sama orang yang membuat menderita, padahal jumblo juga nggak buruk-buruk banget?” Ya, pemikiran ini muncul karena aku belum pernah pacaran dan hidupku baik-baik saja meski nggak pernah ada yang namanya belaian atau sayang-sayangan.

 Pertanyaan lainnya juga muncul bersamaan dengan pertanyaan itu, “Kenapa sih orang mau pacaran?” Tapi setelah kupikir-pikir, orang mau pacaran karena telah jatuh cinta dan bersama orang tersebut ia akan merasa bahagia.

Iya, sesederhana itu. Pada akhirnya perasaan jatuh cinta itu akan menyebabkan dua orang saling ketergantungan. Berharap satu sama lain akan terus saling membahagiakan. Nah, nanti giliran ada satu yang bosan dan tidak merasa bahagia, ia akan mencari kebahagiaan di tempat lain. 

Di situ pasangan yang ditinggalkan akan merasa terkhianati dan bubar deh. Atau bisa juga mereka berdua merasa udah nggak bahagia dan bubar deh. Ya, namanya perasaan kan berubah-ubah.

Tapi kenapa ada pasangan yang bahagia selama bertahun-tahun? Yakin kamu mereka selalu bahagia selama bertahun-tahun? Enggak! Mereka pasti mengalami masa-masa yang dipenuhi rasa bosan, kesal, sebel, tidak bahagia, ingin sendirian, dan lainnya. 

Namun dibandingkan meninggalkan pasangannya, mereka mencari solusi dengan KKN yaitu komunikasi, kompromi, dan negosiasi (kata orang yang berpengalaman). Ketika ada masalah mereka mengkomunikasikannya dan mencari jalan keluarnya berdua. 

Di situ akhirnya mereka kompromi dan negosiasi mana yang terbaik buat mereka berdua. Ya, hidup bersama orang lain itu nggak mudah, harus ada seninya.

Buat yang belum siap melakukan KKN itu, ya, lebih baik jomblo. Jomblo itu nggak buruk-buruk banget kok. Aku lho yang jomblo selama hampir 26 tahun baik-baik aja, kan? 

Aku bisa melakukan banyak hal yang aku suka: nulis, nonton drama Korea, nonton film, kerja, semuanya tanpa harus mempertimbangkan keberadaan orang lain (pacar maksudnya). Nggak usah memaksakan diri untuk punya pasangan hanya karena orang-orang di sekelilingmu udah punya pasangan. 

Ingat, bahagia itu ada pada diri sendiri. Orang lain bahagia karena punya pasangan bukan berarti ketika kamu punya pasangan kamu otomatis akan bahagia.

Get notifications from this blog