√ Arti 26 Tahun: Pertambahan Usia yang Harus Selalu Disyukuri - It's Me Desi Murniati
Copyright © oleh Desi Murniati - All Rights Reserved. Powered by Blogger.

Wednesday, December 23, 2020

Arti 26 Tahun: Pertambahan Usia yang Harus Selalu Disyukuri

 

arti 26 tahun

15 Desember lalu aku baru saja berulang tahun ke 26 tahun. Sebuah pertambahan usia yang membawaku meninggalkan 25 tahun dan semakin mendekati usia 30 tahun. Ada banyak ucapan selamat dan banyak juga yang mengatakan betapa tuanya umurku ini, wkwk. Buat aku sendiri, setiap pertambahan usia adalah sesuatu yang harus aku syukuri. Bagaimana pun, aku sudah berhasil bertahan selama ini hingga sampai di usia sekarang ini. Tapi melihat orang-orang di sekitar yang usia segini sudah bisa ini-itu, aku jadi bertanya ke diri sendiri, “Hal baik apa yang sudah kamu lakukan hingga usia 26 tahun ini?”

Setiap Orang Memiliki Waktu Sendiri

arti 26 tahun

Menjadi kesuksesan orang lain sebagai kesuksesan diri sendiri tentu bukan sesuatu yang bijak. Teman-teman sekolahku sudah banyak yang berpasang-pasangan dan punya keturunan, sedangkan aku, pacaran aja belum pernah. Tapi banyak kok hal-hal yang sudah kulakukan dan kurasakan, sedangkan mereka belum pernah merasakan. Kuliah gratis, jalan-jalan gratis, bisa nulis. Mereka yang bisa sukses di usia muda kemungkinan sudah memperjuangkan hal itu sejak usia mereka masih belia. Sesuatu yang mungkin tidak pernah kulakukan.

Dan, jangan lupakan factor keberuntungan. Di luaran sana ada orang yang memang benar-benar beruntung. Tapi aku selalu percaya jika kita mendapatkan kebaikan, pasti sebelumnya pernah melakukan kebaikan. Bahkan jika kebaikan itu dilakukan oleh orang tua atau keluarga kita, lalu mereka mendoakan kesuksesan kita. Aku jenis manusia yang percaya banget dengan hukum karma. Apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu panen.

Tidak Semua Harus Berjalan sesuai Rencana

Sekitar 5 tahun yang lalu (atau kurang), aku pernah membuat rencana untuk menikah di usia 25 tahun. Entah bagaimana tolak ukurku saat itu, tapi saat itu aku belum bisa melihat kondisi yang kualami di usia 23 dan 24 tahun. Tidak hanya menikah, resolusi di usia 25 tahun juga banyak yang akhirnya cuma jadi tulisan semata. Menerbitkan novel, misalnya. Bahkan di usia 25 tahun aku kembali ingin menyerah nulis novel (lagi). Entah udah keberapa kali aku ingin menyerah jadi penulis novel.

Meski banyak hal yang tidak sesuai rencana, tahun ini juga banyak hal baik yang menghampiri. Setelah dipecat dari kerjaan, aku bisa mendapatkan kerjaan baru. Secara remote. Sesuatu yang sangat aku syukuri karena aku cukup trauma dipecat yang disebabkan teman kerja dan kerja remote artinya aku kerja secara mandiri tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang lain. Aku tidak pernah merencanakan untuk kerja di software akuntansi, tapi itu terjadi begitu saja. Sebagai sebuah rezeki atas kesabaran selama ini, hehe. Aku memang sebelum lulus kuliah berharap bisa kerja di start-up atau di Jogja, di kerjaanku sekarang dua-duanya terwujud. Kerja di start-up dan kantornya di Jogja, sebagai penulis pula. Jadi, meski banyak hal-hal yang berjalan tidak sesuai rencana, akan selalu ada baik yang harus disyukuri.

Kegalauan Menikah dan Pertanyaan Orang-Orang Sekitar

arti 26 tahun

Saat berusia 25 tahun aku menjadi jenis manusia yang sangat selow untuk urusan menikah. Satu-satunya kegalauanku karena masih sendirian adalah saat kondangan teman-teman datang dengan pasangan, aku datang dengan teman. Bukan iri dengan mereka, tapi mendadak muncul pertanyaan, “Normal nggak sih aku ini di umur segini belum punya pasangan?” Ternyata teman-temanku yang masih single juga merasakan hal yang sama.

Menikah bukan sesuatu yang mudah. Jika di awal-awal usia 20 tahun aku mudah banget bilang, “Udah, nikah aja!” Sejak usia 23 tahun aku menegaskan ke diri sendiri untuk tidak mengatakan hal itu. Nikah bukan sesuatu yang bisa dibercandai, atau jadi pilihan saat aku sedang lelah. Lelah, ya istirahat. Capek, ya rehat. Bosan, ya cari aktivitas lain. Nggak harus bilang NIKAH AJA untuk mengatasi permasalahan hidup. Toh, itu juga cuma tembang lambe alias cuma di mulut saja. Kalau tiba-tiba ada yang mengajak nikah juga nggak yakin langsung menyanggupi.

Aku berharap di usia 26 tahun aku juga akan tetap selow menghadapi pernikahan teman-temanku dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Kapan nikah? Kok masih sendiri? Mana pasangannya? Di bandingkan menyamakan kehidupan orang lain, dengan hidupku, aku lebih memandang dari kesiapanku untuk memulai hidup baru. Ada banyak hal yang ingin kulakukan dan itu lebih mudah jika dilakukan sendirian. Aku memegang prinsip aku harus menjadi diri sendiri yang percaya diri sebelum memulai hidup baru dengan orang lain. Aku harus jadi diri yang sudah terbentuk, agar ke depannya nggak mudah terombang-ambing dan bingung ketika harus mengambil keputusan.

Kuncinya Adalah Bahagia

bahagia

Melihat orang lain menikah memang sangat membahagiakan. Tapi bukan berarti mereka bahagia, ketika kita ikut-ikutan juga akan bahagia. Setiap orang punya tolak ukur kebahagiaan yang berbeda. It’s okay, kalau kamu menikah dengan orang yang kamu cintai. Tapi buat orang yang bahkan tidak tahu siapa yang aku cintai untuk saat ini, membayangkan kebahagiaan saat menikah itu sesuatu yang absurd.

Kunci utama dalam hidup adalah yang terpenting kamu bahagia dan yang paling tahu tolak ukur kebahagiaan itu adalah dirimu sendiri. Toh, menikah juga bukan sekadar akad dan resepsi yang membahagiakan. Tapi menikah adalah menjalani hidup bersama orang lain yang asing seumur hidup. Jika kamu tergiur karena melihat pesta pernikahan orang lain, maka jangan langsung menyimpulkan menikah adalah hal yang membahagiakan. Karena pesta pernikahan itu hanya berlangsung seharian atau paling lama 7 hari, sedangkan menikah itu seumur hidup. Akan ada perjalanan di pernikahan yang berbanding terbalik dengan kebahagiaan pesta pernikahan.

Jadi, aku bilang ke diri sendiri, “Nggak apa-apa, selagi aku masih bahagia dengan hidupku sekarang, semua akan baik-baik saja.”

Get notifications from this blog